SAATNYA EKONOMI KREATIF PEGANG KEMUDI PEREKONOMIAN

SAATNYA EKONOMI KREATIF PEGANG KEMUDI PEREKONOMIAN

Oleh: Yassinta Ben Katarti LD

Hasil Sensus Ekonomi tahun 2016 (SE2016) menunjukkan bahwa 84,37 persen usaha yang ada di Provinsi NTB merupakan usaha yang menjadi basis ekonomi kreatif. Dari persentase tersebut, 502 ribu usaha diantaranya merupakan Usaha Mikro Kecil (UMK) sedangkan yang merupakan Usaha Menengah Besar (UMB) mencapai 2,7 ribu usaha. Data tersebut membuka cakrawala bahwa ada peluang sekaligus tantangan untuk bisa mengembangkan Ekonomi Kreatif di Provinsi NTB.

Ekonomi kreatif digadang-gadang oleh Presiden Jokowi menjadi salah satu solusi jitu untuk mendongkrak perekonomian Indonesia secara umum dan meningkatkan daya saing Indonesia dalam komunitas Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Arus perekonomian global yang kian deras menuntut daerah untuk meningkatkan potensi yang ada. Apalagi berkembangnya teknologi dan informasi yang tak dapat dibendung telah  mengakibatkan pergeseran aktivitas ekonomi.  Maraknya sistem perdagangan berbasis online perlahan mulai menggeser eksistensi aktifitas ekonomi konvensional. Seharusnya dengan sistem yang lebih inovatif ini pelaku ekonomi menjadi lebih mudah meraih pasar dan meningkatkan peluang usahanya.

Lapangan usaha yang menjadi basis dari ekonomi kreatif adalah industri, perdagangan, akomodasi dan makan minum, informasi dan komunikasi juga jasa lainnya. Kelima lapangan usaha tersebut juga menjadi sendi-sendi yang menyokong dunia pariwisata. Ciri khas dari  ekonomi kreatif adalah bahwa produk yang dihasilkan merupakan hasil dari inovasi, kreatifitas, gagasan bahkan bakat yang unik  untuk dapat merebut pasar.  Dengan melekatnya ekonomi kreatif pada dunia pariwisata, semakin nyata bahwa ekonomi kreatif sepantasnya menjadi tulang punggung ekonomi di Provinsi NTB, bukannya pertambangan. Hingga detik ini, keberadaan PT AMNT masih menjadi driver bagi naik turunnya pertumbuhan ekonomi Provinsi NTB. Padahal nilai tambah yang dihasilkan dari perusahaan ini belum tentu dapat dinikmati oleh seluruh penduduk NTB. Sudah saatnya ekonomi kreatif bangkit dan membantu memegang kemudi perekonomian di Provinsi NTB.

Sebanyak lebih dari 955 ribu orang tercatat bekerja pada lapangan usaha yang menjadi basis ekonomi kreatif berdasarkan hasil SE 2016. Sebagian  besar dari tenaga kerja tersebut  berbasis UMK, yang memang mendominasi jenis usaha di Provinsi NTB. UMK merupakan jenis usaha yang paling mudah diciptakan karena tidak membutuhkan modal yang banyak maupun tingkat pendidikan yang tinggi. Di sisi lain UMK juga rentan karena belum terlindungi oleh regulasi yang memadai yang mampu menjaga keberlangsungan dari usaha tersebut. Ketangguhan UMK telah teruji saat Indonesia diguncang Krisis Ekonomi pada tahun 1998. Dan hasil dari SE 2016 semakin mengukuhkan kekuatan UMK dalam membangun struktur perekonomian. UMK dan ekonomi kreatif dapat menjadi kekuatan baru perekonomian NTB. Tidak hanya untuk stabilitas ekonomi, pengembangan ekonomi kreatif juga akan mampu mengatasi masalah pengangguran dengan menciptakan lapangan pekerjaan dan pada akhirnya akan mampu meningkatkan pendapatan rumah tangga. Dengan meningkatnya pendapatan kesejahteraan masyarakat juga akan turut terangkat.

Ada empat faktor yang perlu dipertimbangkan untuk mengembangkan ekonomi kreatif secara umum yaitu modal manusia, infrastruktur, lembaga keuangan dan birokrasi pemerintah. Untuk modal manusia, upaya yang dapat dilakukan untuk dapat memajukan ekonomi kratif adalah melalui pendidikan dan pelatihan. Infrastruktur harus dapat mengakomodir kemajuan jaman, sehingga inovasi yang dihasilkan dari proses kreatif bisa lebih optimal. Lembaga keuangan akan memegang peranan tak hanya dalam hal permodalan, namun juga untuk investasi dan bahkan dalam hal pemasaran. Dan muara dari keempat faktor penting tersebut adalah birokrasi pemerintah. Tanpa adanya dukungan penuh dari pemerintah dari segi regulasi, perlindungan hak akan kekayaan intelektual, kemudahan perijinan akan sangat membantu tumbuh kembangnya ekonomi kreatif.

Dinas Pariwisata mencatat bahwa sepanjang tahun 2016 ada 1,7 juta wisatawan nusantara dan 1,4 juta wisatawan mancanegara yang berkunjung ke NTB. Akan sangat disayangkan apabila jumlah wisatawan yang berkunjung ke NTB bertambah namun ekonomi kreatif nya stagnan. Arsitektur, desain interior, desain komunikasi visual, desain produk, film animasi dan video, fotografi, kriya, kuliner, musik, fashion, aplikasi dan game developer, penerbitan, periklanan, televisi dan radio, seni pertunjukan dan seni rupa merupakan enam belas sub sektor dalam ekonomi kreatif. Dari enam belas sub sektor tersebut dapat tergambar bahwa dunia kreatif sangat lekat dengan dunia pariwisata dan ini adalah modal utama bagi ekonomi kreatif.

Sesuai dengan namanya, ekonomi kreatif akan bergantung pada kreatifitas dari pelaku usahanya. Kembangkan desain produk, perkaya khasanah budaya, tingkatkan metode pemasaran, eksplorasi produk baru yang mencirikan NTB adalah beberapa cara untuk menunjukkan eksistensi ekonomi kreatif NTB. Tentu saja tidak lupa dukungan dari lembaga keuangan dan pemerintah sangat diperlukan, bukan dalam hal intervensi kreatifitas namun dalam permodalan dan perlindungan hukum. Apalagi dengan tengah berlangsungnya pembangunan Kawasan Ekonomi Khusus Mandalika, pasar untuk ekonomi kreatif NTB akan semakin terbuka lebar. Sebagaimana dengan sifat naluriahnya, kreatifitas tidak dapat dikekang, tidak dapat didikte namun dapat ditumbuhkan dan dilatih. Kreatifitas yang telah tertuang menjadi suatu produk, perlu dilindungi dari plagiarisme. Jangan sampai budaya kita diakui oleh daerah atau negara lain sebagai budaya mereka dan justru daerah lain itu yang dapat mengembangkannya.

Iklim pariwisata yang sedang ramah terhadap NTB dalam beberapa tahun terakhir ini seharusnya menjadi batu loncatan agar ekonomi kreatif melambung di Nusa Tenggara Barat. Dibutuhkan strategi untuk mewujudkan hal itu, dan yang dalam era ini sedang menjadi trending adalah melalui “pencitraan”. Citrakan bahwa kekayaan alam dan budaya yang ada di Provinsi NTB layak dipertimbangkan sebagai destinasi wisata terbaik di Indonesia.