Kelola Sampah, Bunga Plastik ‘Mekar’ di Mekar Sari

 

Giri Menang - Sampah itu menjijikkan. Terlebih sampah plastik, meminjam istilah mantan Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti, bahwa sampah plastik itu membuatnya ‘gemes banget’ saking tidak sukanya dengan sampah plastik. Syukurnya, sebagian masyarakat sudah mulai ‘menyulap’ sampah yang menjijikkan dan menggemaskan menjadi sesuatu yang menarik. Salah satunya di Desa Mekar Sari, Narmada. Masyarakat Desa Mekar Sari berhasil mengubah sampah plastik menjadi sesuatu yang bernilai ekonomi.

Sebenarnya, terlebih dengan instruksi Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB), Dr. Zulkieflimansyah tentang NTB yang ‘bebas sampah’ atau ‘zero waste’, kegiatan bersih-bersih maupun upaya kreatif memfungsikan sampah sudah mulai dilakukan. Bahkan, cara pengolahan limbah plastik menjadi pembahasan hangat dalam setiap pertemuan tentang lingkungan hidup. Sering disebut, limbah plastik merupakan sampah yang sulit terurai, bahkan ada jenis plastik tidak bisa diurai oleh tanah. Sehingga akan selalu memiliki ancaman terhadap pencemaran lingkungan. Seminar-seminar banyak membahas tentang kekhawatiran terhadap limbah plastik ini.

Untuk mengatasi hal itu, Pemerintah Desa Mekar Sari, Kecamatan Narmada, Lombok Barat, belum lama ini menggelar pelatihan pengolahan sampah plastik. Pelatihan bekerjasama dengan Posnaker Indonesia dan Bunga Sampah Lestari yang digelar di Aula Kantor Desa Mekar Sari. Pelatihan diikuti belasan peserta terdiri dari ibu-ibu dan remaja perempuan dari masing-masing dusun.

Kepala Desa Mekar Sari, Sapinah, menjelaskan, pelatihan ini digelar untuk memaksimalkan pengelolaan sampah di desa tersebut. Selain itu, pelatihan juga dilakukan untuk peningkatan ekonomi masyarakat dan juga demi menunjang semangat Desa Mekar Sari yang tengah berbenah menjadi Desa Wisata.

"Kami mencoba bagaimana memanfaatkan sampah menjadi bermanfaat, baik untuk kebersihan lingkungan dan juga secara ekonomis," katanya.

Menurutnya, permasalahan sampah yang saat ini masih menjadi kendala di Desa Mekar Sari perlahan-lahan akan ditangani dengan kegiatan yang melibatkan partisipasi masyarakat. Salah satunya dengan mengembangkan model pengolahan sampah plastik menjadi karya seni dan kerajinan yang punya nilai ekonomis.

Dengan cara demikian, selain masalah kebersihan bisa terbantu, juga dapat menambah peningkatan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.

"Apalagi sesuai rencana kami Desa Mekar Sari akan dikembangkan menjadi desa wisata, hasil kerajinan ini bisa menjadi produk unggulan," tukasnya.

Menurut Sapinah, selama ini dalam mengelola sampah desa membutuhkan biaya untuk membuang sampah. Namun ke depan, pola pikir yang harus dibangun adalah bagaimana memanfaatkan sampah menjadi uang.

"Jadi bagaimana kita tanamkan kepada masyarakat bagaimana membuat barang yang tadinya tidak berguna, menjadi barang yang memiliki nilai ekonomis," ucapnya berkali-kali menyebut kata ‘ekonomis’.

Sapinah menegaskan, usai pelatihan para peserta yang umumnya kaum ibu dan remaja perempuan akan didorong untuk mengembangkan kerativitas mereka dan mulai membuat produk-produk kerajinan dari bahan baku sampah plastik.

Sektretaris Desa Mekar Sari, Abdul Sattar juga mengatakan, sebelum warga membuat bunga yang berbahan dasar plastik, dilakukan pelatihan selama dua hari diikuti oleh sekitar 18 orang peserta. Pelatihan ini, sebutnya, merupakan bagian dari upaya Pemerintah Desa Mekar Sari dalam mengurangi sampah plastik yang ada di desa agar bisa bermanfaat untuk masyarakat.

"Melalui pelatihan ini masyarakat membantu upaya baik secara kebersihan maupun peningkatan pemberdayaan serta peningkatan perekonomian masyarakat," katanya.

Menurut Sekdes, hal ini juga merupakan upaya Pemdes Mekar Sari dalam mencarikan solusi bagi permasalahan sampah dan kebersihan di desanya.

"Targetnya tentu saja bagaimana sampah kita dapat berkurang dan juga sampah plastik bisa diolah dan memiliki nilai ekonomis bagi masyarakat," katanya sambil menunjukkan bunga plastik hasil kreasi warganya.

Pendamping Desa di Kecamatan Narmada yang juga anggota Posnaker Indonesia, Ahmad Fajaruddin menjelaskan, selama pelatihan para peserta diberikan materi dan tutorial membuat bunga dari bahan baku sampah plastik.

"Kita akan latih cara membuat bunga dari yang paling sederhana kemudian yang rumit. Ini semua dari sampah plastik," katanya.

Ia berharap pelatihan dapat memberikan manfaat bagi para peserta, dan juga membawa manfaat yang baik bagi lingkungan dan kebersihan Desa Mekar Sari ke depan.

"Yang penting harus tekun agar berhasil. Dan yang terpenting adalah bagaimana masyarakat bisa merubah pola pikir, bahwa sampah pun masih bisa bernilai ekonomis jika ada kreativitas," katanya.

Selain Fajaruddin, Ketua Komunitas Daur Ulang Sampah Plastik, Rocki Yarman, juga mengatakan terbentuknya kelompok dari keprihatinan terhadap lingkungan dengan sampah plastik yang begitu banyak, di bawah bimbingan Bapak Juandi Setiawan yang merupakan pendiri dari Komunitas Bunga Sampah Lestari Lombok, kelompoknya bisa mengolah sampah plastik menjadi sesuatu yang bernilai ekonomi tinggi.

“Yaitu berupa bunga yang cantik," ujarnya gembira.

Konten Terkait