Multi Faktor Penyebab Gizi Buruk

Dalam beberapa waktu yang lalu masyarakat disuguhi dengan berita di media massa tentang ditemukannya beberapa kasus gizi buruk yang dirawat di rumah sakit. Berbagai opini muncul tentang siapa yang patut disalahkan, siapa yang harus bertanggung jawab serta siapa yang patut dituduh telah mengalami kegagalan. Dalam tulisan ini penulis ingin menyampaikan tentang berbagai faktor yang berkontribusi terhadap terjadinya kasus gizi buruk dengan maksud untuk menggugah semua pihak agar berbuat dalam rangka menyelamatkan generasi penerus dari kondisi yang buruk serta mewujudkan generasi Indonesia khususnya Provinsi NTB yang berkualitas.

Secara langsung ada 2 penyebab dari gizi buruk pada balita, yaitu asupan nutrisi yang tidak cukup dan terjadinya penyakit/gangguan kesehatan. Bayi maupun balita membutuhkan asupan nutrisi yang memadai untuk menunjang kebutuhan akan pertumbuhan dan perkembangan fisik maupun psikhisnya. Pada anak usia dibawah 6 bulan, kebutuhan nutrisi semestinya bisa tercukupi dengan pemberian air susu ibu saja (ASI eksklusif). Bayi seharusnya diberikan ASI dengan frekuensi dan volume yang cukup. Kesalahan sering terjadi dalam bentuk pemberian makanan lain pada bayi usia dini. Dengan pemberian susu non ASI, disamping dapat menimbulkan reaksi dalam bentuk diare, juga berdampak tidak tercukupinya kebutuhan nutrisi yang ideal. Pemberian makanan padat pada bayi usia dibawah 6 bulan berakibat pada makanan tidak tercerna karena organ pencernaan bayi belum berkembang dan belum mampu mencerna makanan padat. Sebagai akibatnya sering terjadi obstruksi pada usus bayi yang berdampak pada timbulnya gangguan pada saluran pencernaan bayi dan bahkan bisa menimbulkan kematian. Pada anak usia diatas 6 bulan, sering kali juga mengalami kekurangan asupan akibat ketidaktahuan orang tua (pengasuh) dalam memberikan makanan sesuai dengan usia bayi. Bayi yang semestinya diberikan makanan lumat pada kenyataanya diberikan makanan yang lebih padat sehingga disamping bayi kesulitan mengunyah dan menelan, makanan pun tidak bisa dicerna dengan sempurna. Pada kasus lain, kualitas makanan yang rendah juga berdampak pada ketidakcukupan asupan yang seharusnya diterima oleh anak. Kebiasaan anak mengkonsumsi snack ringan memberikan dampak yang buruk kepada status gizi anak. Anak yang telah mengkonsumsi snack ringan sebelum makan, cenderung tidak akan mau makan sehingga anak merasa kenyang namun asupan gizinya tidak tercukupi. Disamping itu snack-snack yang banyak mengandung penguat rasa buatan dan pewarna buatan juga bisa berdampak buruk terhadap kesehatan anak.

Penyakit apapun pada bayi dan anak tidak boleh dianggap remeh. Bayi memiliki daya tahan tubuh yang masih lemah. Oleh karena itu bayi sangat rentan untuk terserang penyakit infeksi yang sering kali berkembang menjadi lebih serius. Beberapa penyakit infeksi yang sering diderita oleh bayi maupun balita dan berdampak pada gizi buruk adalah pneumonia, diare, tuberkulosis paru-paru dan bahkan HIV/Aids. Pada beberapa kasus gizi buruk yang dirujuk di rumah sakit, banyak yang dipicu oleh kasus penyakit tuberkulosis paru-paru (Tb paru). Tb paru pada anak pasti akibat tertular dari orang dewasa terdekat yang sering kontak dengan si anak. Sedangkan penyakit tidak menular yang sering ditemukan adalah penyakit jantung bawaan (congnetal), penyakit ginjal dan cacat bawaan sejak lahir. Adanya pencemaran lingkungan, terutama pembuangan limbah merkuri secara sembarangan ke lingkungan menimbulkan risiko yang sangat besar bagi ibu hamil untuk melahirkan anak dengan cacat bawaan. Bayi dan balita dengan penyakit-penyakit tersebut sangat rawan jatuh ke kondisi gizi buruk.

Secara tidak langsung, ada banyak faktor yang teridentifikasi berpotensi menyebabkan gizi buruk. Kasus perceraian yang banyak terjadi di masyarakat berdampak pada terlantarnya anak karena sang ayah tidak lagi bertanggung jawab atas nafkah anaknya. Sementara itu si ibu juga tidak memiliki pekerjaan. Sebagai akibatnya ketersediaan pangan juga pasti bermasalah sehingga asupan makanan pada anak menjadi kurang berkualitas. Pada beberapa kasus, bahkan anak yang masih bayi harus ditinggal pergi oleh ibunya ke luar negeri sebagai tenaga kerja dan si anak diasuh oleh sang nenek yang biasanya secara sosial ekonomi juga rendah. Perpisahan antara anak dengan ibu menyebabkan anak tidak mendapatkan air susu ibu yang merupakan makanan terbaik bagi bayi. Pada kasus yang lain, setelah ayah dan ibunya bercerai masing-masing membina rumah tangga dengan pihak lain sehingga anaknya dititipkan kepada neneknya. Hal ini sering mengakibatkan anak tidak terurus dengan baik.

Pergaulan bebas di kalangan remaja yang akhir-akhir ini semakin menghawatirkan, seringkali juga berakhir pada kehamilan yang tidak diinginkan. Dengan kehamilan seperti itu, wanita maupun keluarganya cenderung menyembunyikan kehamilannya sehingga tidak mengakses pemeriksaan kehamilan. Dengan kehamilan yang tidak terkontrol disertai dengan asupan nutrisi maupun supplemen yang tidak terpenuhi, berpotensi melahirkan anak dengan gangguan bawaan dan berat badan lahir rendah bahkan dengan panjang badan dibawah normal. Anak yang lahir dengan kondisi ini sangat berpotensi memiliki gangguan pertumbuhan dan perkembangan yang berujung pada gizi buruk. anak tersebut juga akan memiliki daya tahan tubuh yang rendah sehingga sangat rentan terserang penyakit infeksi. Pada beberapa kasus yang ditemukan, bahkan pihak keluarga tidak menyadari bahwa si remaja sedang hamil dan baru mengetahui setelah anaknya melahirkan di sarana pelayanan kesehatan.

Perkawinan usia dini yang banyak terjadi di masyarakat sering kali menimbulkan masalah sosial di kemudian hari. Rata-rata usia kawin pada wanita di Provinsi Nusa Tenggara Barat mencapai pada tahun 2014 dibawah 15 tahun (www.antaranews.com). Bahkan Badan Pusat Statistik NTB melaporkan usia perkawinan muda NTB mencapai 58% (NTB.BPS.go.id). Pada usia yang masih muda, seorang wanita belum memiliki persiapan fisik, psikhis maupun sosial ekonomi untuk memasuki dunia rumah tangga. Bila hal ini terjadi, maka seringkali rumah tangga yang mereka jalani tidak berjalan harmonis dan berakhir dengan perceraian yang berujung pada penelantaran anak.

Tidak dapat dipungkiri, kemiskinan juga masih banyak ditemukan di masyarakat. Kondisi miskin disamping berakibat pada tidak terjaminnya ketersediaan pangan berkualitas di tingkat keluarga, juga mempengaruhi aspek-aspek kehidupan lainnya. Pada keluarga miskin biasanya memiliki kondisi sanitasi dan lingkungan perumahan yang buruk serta perilaku hidup yang kurang bersih dan sehat sehingga dapat memicu timbulnya penyakit infeksi menular pada anggota keluarganya. Disamping itu keluarga miskin biasanya juga memiliki akses yang terbatas terhadap informasi termasuk informasi tentang kesehatan. Hal ini mengakibatkan rendahnya pengetahuan tentang kesehatan termasuk informasi tentang perilaku hidup bersih dan sehat serta cara-cara mengasuh dan memberikan asupan nutrisi anak yang benar.Fakta yang ditemukan adalah hampir seluruh anak yang dirujuk di rumah sakit dengan gizi buruk dan penyakit penyerta, status sosial ekonomi keluarganya rendah dan bapaknya sebagai penanggung jawab ekonomi keluarga tidak memiliki pekerjaan yang tetap. Kondisi kemiskinan inilah yang menjadi pemicu utama terjadinya kasus gizi buruk.

Di setiap dusun, telah disiapkan pelayanan posyandu yang secara rutin melakukan pemantauan pertumbuhan dan perkembangan anak setiap bulan. Pada kader kesehatan selalu siap membantu menimbang balita agar dapat dipantau status gizinya. Sedangkan petugas kesehatan juga selalu hadir untuk memberika pelayanan kesehatan, konseling, penyuluhan dan imunisasi kepada balita maupun ibu hamil. Permasalahan yang sering ditemukan adalah ibu-ibu tidak mau rutin menimbangkan anaknya ke posyandu sehingga cakupan penimbangan hanya berkisar 70%. Dengan cakupan tersebut berarti ada sekitar 30% balita yang tidak terpantau status gizinya. Selama ini para kader dibantu petugas kesehatan berinisiatif untuk melakukan sweeping bagi balita yang tidak hadir untuk ditimbang. Namun sering kali juga pada saat sweeping si balita tidak ditemukan. Hal ini memberikan gambaran betapa kesadaran orang tua untuk melakukan pemantuan pertumbuhan anaknya masih rendah. Mereka belum merasa membutuhkan adanya pemantauan status gizi. Hal ini dibuktikan dari hasil analisa yang dilakukan bahwa pada saat usia anak diatas 1 tahun, yang mana mereka telah mendapatkan imunisasi lengkap, tingkat kehadiran ke posyandu biasanya menurun. Jadi ibu-ibu rajin membawa ke posyandu lebih kepada untuk mendapatkan imunisasi, belum didorong oleh perlunya memantau status gizi anak. Padahal pemantauan status gizi anak setiap bulan merupakan hal yang sangat penting dalam rangka mencegah terjadinya kurang gizi maupun gizi buruk.

Permasalahan lain biasanya muncul pada saat pasien gizi buruk dirujuk ke rumah sakit. Keluarga pasien biasanya tidak memiliki kartu jaminan kesehatan sehingga memiliki masalah dengan biaya pengobatan dan pemeriksaan penunjang di rumah sakit. Bahkan persyaratan administrasi seperti KTP maupun kartu keluarga untuk pengurusan bantuan kartu pembayaran pun tidak dimiliki. Disamping itu, sering kali keluarga pasien meminta pulang paksa dengan alasan tidak ada yang mengurus keluarga di rumah, tidak memiliki uang transportasi, tidak memiliki bekal yang cukup dan sebagainya. Disini dibutuhkan adanya kepedulian masyarakat dan aparat desa sekitar untuk membantu meringankan beban warganya dalam bentuk kegotongroyongan biaya sosial.

Dimana peran institusi kesehatan dalam pencegahan dan penanggulangan gizi buruk ini? Pihak institusi kesehatan memiliki tanggung jawab untuk sebanyak mungkin menemukan kasus gizi buruk atau bahkan gizi kurang agar dapat segera dilakukan penanganan bahkan dirujuk ke institusi pelayanan yang lebih tinggi sehingga mencegah terjadinya kondisi yang lebih buruk. Petugas kesehatan juga dituntut untuk dapat memberikan informasi dan konseling sebanyak mungkin kepada masyarakat tentang hal-hal yang harus dilakukan untuk mencegah gizi buruk serta mencegah penyakit baik menular maupun tidak menular. Dengan demikian peran institusi kesehatan sebetulnya berada di hulu dan di hilir. Di hulu bila terkait dengan upaya pencegahan, sedangkan di hilir bila terkait dengan penemuan dan penanganan kasus. Namun perlu diingat, bahwa berdasarkan konsep HL. Bloom tentang determinan masalah kesehatan, kontribusi pihak kesehatan hanya berkisar 10%, kontribusi faktor herediter (keturunan) sebesar 4% dan yang 86% adalah tanggung jawab dari perilaku individu, keluarga dan lingkungan sekitar.

Demikianlah uraian tentang banyak faktor yang berkontribusi terhadap timbulnya gizi buruk dengan maksud untuk menggugah semua pihak untuk ikut bertanggung jawab dan bertindak bersama agar kasus gizi buruk tidak muncul kembali di kemudian hari. Diharapkan masyarakat memahami bahwa hulu permasalahan gizi buruk berada di lingkungan keluarga dan masyarakat, sehingga semua harus memiliki komitmen bersama agar kasus gizi buruk ini tidak muncul kembali.

Penulis: Mohammad Abdullah (Kabid Kesehatan Masyarakat, Dinas Kesehatan Kabupaten Lombok Barat)

Ketua IAKMI Pengurus Daerah Provinsi NTB

Moh Abdullah