Isu Mercury Sekotong, Hanya ‘Tourism Politic’

Giri Menang, Selasa 10 Oktober 2017 – Munculnya isu ancaman mercury sebagai dampak aktivitas pertambangan liar ditanggapi Camat Sekotong Lalu Ahmad Satriadi. Menurut dia, kembali munculnya isu mercury itu tak lebih dari tourism politic atau politik pariwisata dari pesaing terdekat yakni Bali.

Satriadi berargument, saat ini geliat pariwisata di kawasan Sekotong dan Lobar secara umum mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Beberapa agenda sudah mulai digelar di kawasan Sekotong sebagai upaya menarik minat atau kunjungan wisatawan. “Itu kelihatan sekali, karena Sekotong dianggap saingan,” cetusnya.

Beberapa waktu lalu kembali dimunculkan tentang ancaman bahaya mercury di kawasan Sekotong. Dari penelitian yang dilakukan oleh International POPs Elimination Network (IPEN), Biodiversity Research Institute (BRI), dan BaliFokus. Menemukan bahwa dampak paling nyata dari mercury itu adalah pencemaran air. Jika melihat bahaya jangka panjangnya, manusia yang menanggung beban dampak mercury pada tubuh, mengancam kerusakan otak dan gangguan ginjal. Bahkan terparah, ada isu bahwa ada ditemukan beberapa penyakit aneh yang mulai menjangkiti masyarakat Sekotong.

Menjawab itu, Satriadi menegaskan bahwa tidak ada penyakit aneh seperti yang diklaim oleh pihak peneliti yang tidak diketahuinya itu. Menurut dia, di Sekotong ada Puskesmas, ada dokter ahli. “Dan saya ingin tanya, diambang berapa yang dikatakan bahaya itu. Kan dokter gigi juga pakai mercury, kenapa itu tidak bahaya. Cosmetic juga pakai mercuri. Tolong jelaskan ambang batasnya berapa,” ujarnya bertanya-tanya.

Camat Sekotong itu juga menantang pihak yang konon melakukan penelitian terkait ancaman mercury di Sekotong untuk menunjukkan data ilmiah dari hasil penelitiannya. “Jangan ngomong-ngomong tanpa bukti itu. Ini kan tehnis, ini harus dijawab dengan data. Menurut saya ini hanya politik pariwisata, dia tahu pariwisata Sekotong mulai bangkit dengan mulai dibangunnya jalan, jembatan dan listrik yang rencananya dialirkan ke kawasan Gili Gede,” tudingnya.

Bahkan dengan tegas Satriadi mengatakan bahwa sampai sejauh ini belum pernah ada pihak yang datang ke kantornya untuk meminta izin melakukan penelitian. Tak hanya itu, dari Puskemas setempat pun juga tidak ada informasi terkait adanya penyakit aneh yang menjangkiti warga Sekotong. “Kalau mercury itu dianggap bahaya, bagaimana caranya mengantisipasi masuknya. Jalan masuknya, diperketat. Namanya masyarakat butuh makan, (maaf) mencuri saja bisa dilakukan kalau untuk makan,” tambahnya berapi-api.

Sekotong, seperti diketahui memiliki begitu banyak potensi. Mulai dari potensi di sector pertanian, pertambangan, perikanan dan kelautan, terlebih potensi pariwisata yang begitu menjanjikan. Khusus untuk sector pariwisata, Pemkab Lobar dibawah kepemimpinan H. Fauzan Khalid sebagai Bupati Lobar kini mulai focus mempromosikan kawasan Sekotong. Bebeberapa kegiatan pun mulai dilakukan dikawasan tersebut, seperti event Mekaki Marathon dan beberapa kegiatan yang bertujuan untuk mempromosikan sector pariwisata di Sekotong.

Tak hanya dari kalangan pemerintah, masyarakat sekitar pun mencoba mengambil peran untuk mempromosikan daerah paling barat Kabupaten Lobar itu. Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) yang sebelumnya melempem kini mulai menunjukkan aksinya. Promosi melalui media social pun gencar dilakukan dengan mempromosikan hastag #SekotongMendunia.

Gencarnya promosi pariwisata Sekotong yang dilakukan Pemkab Lobar dan masyarakat sekitar pun mulai menunjukkan hasil. Tingkat kunjungan wisatawan pun mengalami peningkatan yang sangat signifikan. Kendati belum terdata maksimal, namun masyarakat sudah mulai merasakan dampak dari meningkatnya sector pariwisata Sekotong.