Clara si Anak Cerdas……

Perawakannya kecil dan pendiam. Sikap dan gerak geriknya sopan. Setiap kali diajak bicara, yang lebih dulu tampak adalah senyum. Ya, itulah senyum Clara Ika Larasati. Senyum yang mengembang seperti senyum Monalisa, judul sebuah lukisan realist karya Leonardo Devinci yang kesohor sejagad raya itu.
Di balik diam Clara, ternyata murid kelas 8 pada SMPN 1 Kediri ini memiliki potensi bergengsi. Putri pertama dari pasangan Heri Nuryanto-Popon Susanti ini, boleh dibilang murid cerdas. Di balik diamnya pun, siswi kelahiran Bandung, 10 Januari 2003 ini sedang berpuas hati atas prestasi pendidikannya. Apa prestasinya? Ya, dia adalah siswi satu-satunya di kabupaten Lombok Barat (Lobar) yang mewakili Provinsi NTB pada gelaran Olimpiade Sains Nasional (OSN) tingkat nasional di Riau 2-8 Juli 2017 mendatang.
”Saya ikut lomba OSN tingkat nasional bidang mata pelajaran IPS,” kata Clara kepada Humas Pro, Selasa (20/6) di Lobi ruang kerja bupati Lobar.
Hari ini memang sudah ada schedule untuk bertemu bupati, sekaligus meminta restu bupati atas keberangkatannya.
Sebelum bertemu bupati, Humas Pro sempat menjalin percakapan dengan Clara. Awalnya, dia ikut lomba OSN atas ajakan guru pembimbing mata pelajaran (mapel) IPS. Ajakan itu tidak disia-siakan. Berkat kesiapan mental dan skill, Clara sukses menjuarai lomba OSN bidang IPS tingkat Kabupaten Lobar. Berikutnya, pada lomba yang sama di tingkat Provinsi NTB, Clara pun puas sebagai pemenang pertama mengalahkan puluhan peserta se NTB.
Sekarang, Clara mau ikut lomba OSN tingkat nasional di Riau. Itulah topik pembicaraan dalam pertemuan mereka dengan bupati Lobar, H.Fauzan Khalid. Selain melepas keberangkatan Clara, dalam pertemuan ini pun sekaligus dirangkai dengan ucapan selamat bupati.
Pada kesempatan pertemuan itu, Clara tidak sendiri. Dia ditemani ibunya, guru pembimbing, Kepala sekolah serta pejabat dari Dikbud Lobar. Dalam pertemuan khusus itu, Bupati Fauzan Khalid memberikan apresiasi yang tinggi kepada Clara.  Bupati merasa bangga dengan Clara dan keluarga besar SMPN 1 Kediri serta orang tua Clara. Karena persoalan kemampuan sebenarnya semua sama. Yang sering membedakannya adalah, usaha dan bagaimana menghadapi keadaan, kondisi, tekanan dan lain-lain. “Setelah usaha, muncul optimisme,kita tidak boleh rendah diri, kita ini semua sama,” sebuah advis yang  cukup mengena dari bupati.
Di luar itu, artinya pemerintah, sekolah maupun orang tua Clara harus menyiapkan kondisi yang ideal. Maksudnya, agar usaha Clara yang sedang dijalankan nampak hasilnya. Diharapkan juga kondisi yang ada bisa mendorong usaha Clara untuk lebih mendapatkan hasil yang sempurna.
“Saat karantina Clara harus bisa beradaptasi dengan kondisi Riau,” jelas bupati.
Sekarang, apapun alasannya, Clara sudah siap mengharumkan nama daerah Lombok Barat. Seperti pengakuannya, di kancah yang lebih tinggi hingga internasional, Clara sudah siap fisik, mental dan yang tak kalah siapnya adalah soal skill. “Insyaallah, saya sudah siap berkompetisi,” katanya seraya melempar senyum, manis sekali nampaknya.
Baik guru pendamping, kepala sekolah, orangtua Clara, teman-temannya, sudah siap memanjatkan doa agar kepulangan Clara ke Lombok Barat ada hasil, tidak dengan tangan hampa.
Clara sendiri berusaha untuk optimis seperti permintaan bupati. Karena tidak ada salahnya optimis, walau kemampuan hanya seujung kuku.
“Yang  penting diikuti rasa optimis Pak, kalah menang itu soal keberuntungan,” lagi-lagi Clara melempar senyum, senyum kemenangan. Ayo Clara, kamu pasti bisa! – (LPA/humas)