BALIKPAPAN… WAOW..!!!

Balikpapan, 17 Februari 2017 – Awal niat mengunjungi kota ini dilingkupi sedikit enggan. Jauh..!!, Kebayang jenuh, perjalanan darat yang paling membosankan, dan transit yang berlama-lama. Bayangan besar dan luasnya pulau Kalimantan membuat penulis merasa seperti itu.

Transit di Bandara Djuanda ternyata tidak terlalu lama. Cukup menunggu 2 jam, penulis bersama rombongan sudah harus naik pesawat yang akan membawa penumpang ke Bandara Sepinggan.
Hampir separuh jalur adalah laut Jawa setelah melintas di gugusan pulau Madura dan hutan belantara Kalimantan. Tampak dari ketinggian, laut dan hutan terhalang dengan kumpulan awan putih. Birunya laut Jawa atau Hijaunya belantara hutan di bawah seakan sama dan menyatu dengan langit. Biru dan hijau. 1 jam kemudian, Balikpapan pun sudah tampak di depan mata.
Balikpapan menjadi tujuan kunjungan maupun transit yang cukup ramai. Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan adalah bandara dengan fasilitas yg super lengkap dengan penataan yg sangat rapi. Fasilitas belanja dan mall yang terintegrasi dengan ruang-ruang tunggu dan area parkir membuat para pengunjung seakan berada di pusat belanja. Berlama-lama di bandara ini dijamin tidak boring lah.

Belanja atau sekedar cuci mata, menjadi pembunuh jenuh yang paling mujarab dan sehat. Cuma hati-hati. Dompet harus terisi agak tebal.
Memasuki kota Balikpapan, penulis yang mendampingi rombongan bupati disuguhkan dengan suasana kota yang luar biasa. Indah. Teratur. Asri.

Beberapa pusat keramaian sangat mudah ditemui, sama mudahnya dengan menemukan masjid atau tempat ibadah umat lain, dan terutama taman-taman kota yang menyejukkan.
Kota dengan iklim yang cukup terik karena berjarak beberapa derajat lintang selatan dari garis lurus khatulistiwa ini dikenal sebagai kota dengan predikat paling damai dari organisasi lingkungan dunia World Wildlife Foundation (WWF).
Kebersihan kota sangat mencolok. Bukan hanya dari sampah yg dibuang secara sembarangan, Balikpapan bahkan sangat bersih dari spanduk atau leaflet-leaflet yg mengotori dinding kota seperti umumnya kota2 besar lainnya di Pulau Jawa atau bahkan Mataram sekalipun.
Satu hal yang menggelitik penulis dengan keajaiban kota ini.

Masyarakatnya memiliki kesadaran tinggi tentang ketertiban. Pengunjung akan sulit menemukan pengendara melaju dengan kecepatan di atas 60 km/ jam. Walaupun rata-rata kendaraan yang melaju adalah kendaraan besar double kabin yang umum digunakan untuk medan berat. Di samping melaju pelan, para pengendara sangat sopan.

2 hari mengitari kota, penulis tidak pernah mendengar suara bising knalpot racing maupun klakson. Ajib sekali pembaca. Bahkan klakson pun tidak pernah penulis dengar.
Walikota Balikpapan sempat menceritakan kebiasaan itu.
“Warga balikpapan sangat saling menghargai. Kalaupun ada yang membunyikan klakson, itu pasti bukan warga balikpapan”, cerita laki-laki 50an tahun itu.
Balikpapan memang ajib. Memang waow. Sayang kehadiran penulis di kota berpenduduk 720 ribuan jiwa ini hanya untuk tugas. 2 hari penuh sesungguhnya cukup untuk one day vacation, namun itu bila sengaja untuk berlibur.
Pengunjung bisa mengunjungi Pasar Sayur, pasar terbesar di Balikpapan. Pengunjung jangan berfikir bahwa pasar ini adalah pusat perkulakan sayur mayur. Bukan. Ini pasar tanah abangnya Balikpapan tempat apapun bisa dijual belikan. Pengunjung pun bisa menikmati taman hutan rakyat yang ada di pinggir-pinggir kota.

Bila waktu lebih lagi, pengunjung bisa melancong ke hutan-hutan tropis yang berskala lebih besar tempat habitat hewan-hewan khas kalimantan. Ada pula hutan mangrove yang menjadi hilir sungai besar di Balikpapan yang menuju laut. Bila alam mungkin membosankan, maka wisata kuliner pun cukup menarik bagi para pengunjung. Kepiting khas Balikpapan adalah yang paling menggiurkan. Komuditas ini yang paling banyak menarik minat selera para pengunjung. Namun hati hati bagi penyandang kolesterol tinggi. Pengunjung harus mampu kontrol selera.
Lain mungkin dengan penulis. Penulis kagum dengan kerapian dan ketertiban kota dengan 114 etnis ini. Hampir jarang ada konflik sosial. Kriminalitas pun sedikit, kecuali penyakit masyarakat kota yang sudah mulai sedikit dirambah narkoba.
Balikpapan sangat waow untuk membuktikan kebhinekaan yang ika. Inilah prototipe Indonesia nan Asri dan Tertib. Kepada Kota Minyak ini penulis temukan. Mengamini cerita sang Walikota, kota ini menjadi tertib karena “kami the dream team”, sambil menunjuk jajaran kepolisian, tentara, dan penegak hukum mitranya dalam forkompimda.
Penulis meninggalkan kota peraih Adipura Kencana ini dengan niat yang tersimpan, suatu saat nanti bisa berkunjung lagi khusus untuk belajar rekayasa bagaimana mampu menciptakan tatanan sosial yang sedemikian tertib dan toleran.

IMG-20170217-WA0010 IMG-20170217-WA0009 IMG-20170217-WA0008 IMG-20170217-WA0007 IMG-20170217-WA0006 IMG-20170217-WA0004 IMG-20170217-WA0003 IMG-20170217-WA0002